Rabu, 15 Mei 2013

Animisme dan Dinamisme


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk hidup manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat. Masyarakat Jawa, atau tepatnya suku bangsa Jawa, secara antropologi budaya adalah orang-orang yang dalam hidup kesehariannya menggunakan bahasa Jawa dengan berbagai ragam dialeknya secara turun-temurun.[1] Masyarakat Jawa merupakan suatu kesatuan masyarakat yang diikat oleh norma-norma hidup karena sejarah, tradisi, maupun agama.
Sebelum datangnya Islam ke pulau Jawa, masyarakat Jawa dikenal sebagai penganut animisme dan dinamisme. Ajaran animisme dan dinamisme, atau yang sering disebut orang Barat sebagai religion magis ini sudah ada sebelum datangnya Hinduisme dan Budhisme. Hal ini merupakan nilai budaya yang paling mengakar dalam masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Masyarakat Jawa sangat kental dengan masalah tradisi dan budaya. Masyarakat Jawa yang tidak memiliki pemahaman yang cukup terhadap agama yang dianutnya, lebih banyak menjaga warisan leluhurnya dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, meskipun bertentangan dengan ajaran agama yang mereka anut. Sebagai masyarakat yang masih sederhana, wajar bila animisme dan dinamisme merupakan inti kebudayaan yang mewarnai seluruh aktivitas kehidupan masyarakatnya.
Makalah ini mengkaji tentang kepercayaan animisme dan dinamisme yang ada pada masyarakat serta bagaimana sikap masyarakat terhadap orang yang sudah meninggal serta bentuk-bentuk kultus sesembahan yang dihasilkan dari adanya sikap tersebut.

B.     Rumusan Masalah
Untuk mempermudah pembaca dalam memahami karya tulis ini, penulis mencoba merumuskan beberapa masalah yang berkaitan dengan tema tersebut, yaitu:
1.      Apakah Pengertian Animisme Dan Dinamisme?
2.      Bagaimanakah Sikap Masyarakat Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Sekilas Tentang Animisme Dan Dinamisme
v  Animisme
Pandangan hidup masyarakat Jawa memang berakar jauh ke masa lalu. Masyarakat Jawa sudah mengenal Tuhan sebelum datangnya agama-agama yang berkembang seperti sekarang ini. Suku bangsa Jawa sejak zaman prasejarah telah memiliki kepercayaan animisme yaitu kepercayaan kepada makhluk halus atau roh.
Animisme berasal dari kata anima, anime; dari bahasa Latin Animus, dan bahasa Yunani Avepos, dalam bahasa Sanskerta disebut Prana, dalam bahasa Ibrani disebut Ruah, yang artinya napas atau jiwa.[2]
Dalam Kamus Ilmiah Populer juga dijelaskan bahwa animisme adalah suatu paham bahwa alam ini atau semua benda memiliki roh atau jiwa.[3]
Kuncoroningrat dalam bukunya yang berjudul Sejarah Kebudayaan Indonesia juga menjelaskan bahwa animisme adalah kepercayaan yang menganggap bahwa  semua yang bergerak dianggap hidup dan mempunyai kekuatan ghaib atau memiliki roh yang berwatak baik maupun buruk.[4]
Dapat disimpulkan bahwa animisme adalah suatu kepercayaan tentang adanya roh atau jiwa pada benda-benda, tumbuh-tumbuhan, hewan dan juga pada manusia sendiri atau dengan kata lain animisme itu mempercayai bahwa setiap benda yang ada di bumi ini (seperti laut, gunung, hutan, gua, atau tempat-tempat tertentu), memiliki jiwa yang harus dihormati agar jiwa tersebut tidak mengganggu manusia tetapi malah membantu mereka.
Secara  singkat, animisme dapat diartikan kepercayaan masyarakat terhadap roh leluhur. Dalam keyakinan masyarakat ini, mereka meyakini bahwa orang yang telah meninggal dianggap sebagai yang maha tinggi, menentukan nasib dan mengontrol perbuatan manusia. Roh orang yang meninggal dianggap dan dipercayai mereka sebagai makhluk kuat yang menentukan segala kehendak dan kemauan yang harus dilayani.[5]
Dengan kepercayaan tersebut mereka beranggapan bahwa disamping semua roh yang ada, terdapat roh yang paling berkuasa dan lebih kuat dari manusia. Dan, agar terhindar dari roh tersebut mereka menyembahnya dengan jalan mengadakan upacara disertai sesaji. Upacara tersebut dilakukan oleh masyaratakat Jawa agar keluarga mereka terlindung dari roh jahat.[6] Itu semua mereka lakukan karena mereka percaya bahwa roh-roh leluhur mampu memberikan sabda ramalan kepada anak keturunan mereka yang selalu meminta saran pada saat dalam keadaan kesulitan.[7]
Dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid II, Priyohutomo menambahkan bahwa masyarakat Jawa melakukan upacara itu untuk meminta berkah pada roh, dan meminta pada roh jahat agar tidak mengganggunya. Mereka membuat beberapa monumen yang terbuat dari batu sebagai tempat pemujaan untuk nenek moyang, serta menolak perbuatan hantu jahat.[8]
Cara yang ditempuh untuk menghadirkan roh nenek moyang adalah dengan mengundang orang yang ahli dalam bidang tersebut, yang disebut perewangan, untuk memimpin acara. Mereka juga membuat patung nenek moyang agar roh nenek moyang masuk dalam patung tersebut dengan bantuan dan upaya perewangan tersebut. Sebagai kelengkapan upacara, mereka menyiapkan sesaji dan membakar kemenyan atau bau-bau lain yang digemari nenek moyang. Mereka menyempurnakan upacara tersebut dengan bunyi-bunyian dan tari-tarian agar roh nenek moyang yang dipanggil menjadi gembira dan berkenan memberikan berkah kepada keluarganya.[9]
Selain dengan bantuan perewangan, cara untuk menghubungi roh orang yang sudah meninggal juga dilakukan dengan cara tidur di atas kuburan-kuburan sambil mengharapkan mendapatkan keberuntungan seperti yang dilakukan oleh masyarakat Dayak di Kalimantan.[10]
Banyak kepercayaan animisme yang berkembang di masyarakat, seperti kepercayaan masyarakat Nias yang meyakini bahwa tikus yang keluar masuk rumah adalah jelmaan dari wanita yang meninggal dalam keadaan melahirkan.[11] Dalam hubungannya dengan roh nenek moyang atau roh leluhur, dapat didapati di beberapa suku. Seperti suku Toraja, mereka mempercayai bahwa roh nenek moyang adalah penjaga serta pelindung adat; doa restu mereka sangat diharapkan karena tanpa restu mereka maka hidup akan ditimpa musibah serta bencana lain yang menimpa masyarakat. Pada suku Ngaju di Kalimantan, roh nenek moyang dianggap yang menjaga kelestarian kampung, sungai, sawah dan lain-lainnya sehingga masih berfungsi sebagaimana mestinya.[12]
Para roh ini dianggap masih tetap tinggal di sekitar kediaman mereka dahulu. Karena itu mereka perlu makanan dan minuman yang harus disediakan oleh anak cucunya atau sanak keluarganya.
Selain percaya kepada roh-roh yang dianggap keramat, masyarakat Jawa juga percaya akan adanya dewa-dewa. Hal ini terlihat jelas pada keyakinan mereka akan adanya penguasa Laut Selatan yang mereka namakan Nyai Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan).[13] Masyarakat Jawa yang tinggal di daerah pantai selatan sangat mempercayai bahwa Nyai Roro Kidul adalah penguasa Laut Selatan yang mempunyai hubungan kerabat dengan Mataram (Yogyakarta). Mereka memberi bentuk sedekah laut agar mereka terhindar dari mara bahaya.
Itulah gambaran masyarakat Jawa dengan keunikan mereka dalam beragama dan berbudaya. Hingga sekarang keunikan ini justru menjadi warisan yang dijunjung tinggi dan tetap terpelihara dalam kehidupan mereka. Bahkan dengan adanya otonomi daerah, masing-masing daerah mencoba menggali tradisi-tradisi semisal untuk dijadikan tempat tujuan wisata yang dapat menambah income bagi daerah yang mengelolanya.




v  Dinamisme
Masyarakat Jawa mempercayai bahwa apa yang telah mereka bangun adalah hasil dari adaptasi pergulatan dengan alam. Kekuatan alam disadari merupakan penentuan dari kehidupan seluruhnya.[14] Sebagai contoh, keberhasilan pertanian tergantung dari kekuatan alam, matahari, hujan, angin dan hama, tetapi mereka masih mempercayai kekuatan adikodrati di balik semua kekuatan alam tersebut. Salah satu bentuk kekuatan yang terdapat dalam dan di balik gejala-gejala alam tersebut adalah kekuatan dinamisme.[15]
Perkataan dinamisme berasal dari bahasa Yunani, yaitu dunamos atau dalam bahasa Inggris disebut dynamic yang artinya kekuatan, kekuasaan dan daya.[16]
Dalam Ensiklopedi Umum dijumpai definisi dari dinamisme sebagai kepercayaan keagamaan primitif pada zaman sebelum kedatangan agama Hindu ke Indonesia.[17] Dinamisme disebut juga dengan istilah preanimisme[18] yang mengajarkan, bahwa tiap-tiap benda atau makhluk mempunyai mana.[19]
Begitu juga di dalam Kamus Ilmiah Populer dijumpai bahwa arti dari dinamisme adalah kepercayaan primitif dimana semua benda mempunyai kekuatan yang bersifat ghaib.[20]
Dapat disimpulkan bahwa dinamisme adalah kepercayaan terhadap benda-benda di sekitar manusia yang diyakini mempunyai kekuatan ghaib. Maksud dari kekuatan tersebut adalah kekuatan yang berada dalam suatu benda (bisa berasal dari api, air, batu-batuan, benda ciptaan, pepohonan, hewan atau bahkan manusia sendiri) dan diyakini mampu memberikan manfaat atau memberikan bahaya.
Masyarakat Jawa percaya bahwa roh itu tidak hanya menempati makhluk hidup tetapi juga menempati benda-benda mati atau benda yang dianggap keramat. Biasanya benda-benda yang mereka keramatkan adalah benda-benda pusaka peninggalan dan juga makam-makam dari para leluhur atau tokoh yang mereka hormati.
Pada umumnya benda-benda yang mengandung mana ini bermanfaat bagi pemiliknya sebagai penangkal penyakit atau bahaya. Benda ini bisa berwujud pusaka seperti keris, cincin akik, tombak dan sebagainya. Di samping penolak dan penangkal, benda-benda pusaka yang mengandung mana itu juga dianggap dapat mendatangkan kehormatan dan kemuliaan kepada pemiliknya.[21]
Cara untuk menghormati fetish[22] biasanya dilakukan oleh masyarakat dengan merawat dengan baik benda tersebut, diolesi dan disirami pada waktu tertentu, disuguhi hidangan makanan atau kembang serta diasapi dengan kemenyan. Semua ini dilakukan dengan maksud agar kekuatan yang terkandung dalam benda itu bertambah, terpelihara atau terbaharui.[23]
Selain itu, cara untuk menghormati benda-benda pusaka tersebut adalah dengan cara kirab pusaka seperti yang dilakukan di Keraton Yogyakarta maupun Keraton Surakarta, yang mana sebelum dilakukan kirab, pusaka-pusaka tersebut juga dimandikan dengan air khusus dan ritual lainnya yang mengikuti dalam prosesi kirab pusaka.

B.     Macam-Macam Sikap Terhadap Orang Yang Sudah Meninggal
Pemujaan dan penghormatan terhadap para leluhur adalah manisfestasi dari macam-macam sikap terhadap orang yang telah meninggal di kalangan suku bangsa primitif. Mereka percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal tidak hanya menempati makhluk hidup tetapi juga menempati benda-benda mati, sehingga roh itu bisa terdapat dalam bebatuan, pohon-pohon, benda pusaka, dan lainnya. Karena adanya kepercayaan pada roh, timbullah pemujaan terhadap benda atau tempat yang dipercaya dihuni oleh roh leluhur.
Dengan harapan agar roh yang dipuja membalas dengan kebaikan atau tidak mengganggu mereka yang mengadakan sesembahan, adakalanya mereka memuja roh tersebut dengan upacara yang menggunakan hewan-hewan yang dianggap mengandung mana.
Menurut kepercayaan tradisional Jawa, kerbau dhungkul jantan, kambing kendhit jantan, adalah hewan-hewan utama yang mempunyai mana. Hewan tersebut biasa digunakan untuk upacara labuhan ke Gunung Merapi, ataupun ke Gunung Merbabu, ataupun ke Laut Kidul. Mereka percaya bahwa ini semua mengandung hikmah dan kekuatan ghaib untuk menghilangkan penyakit dan mencegah bencana alam.[24]
Pada masyarakat primitif seperti masyarakat Jawa pada zaman dulu, dapat dijumpai beberapa macam sikap terhadap orang yang sudah meninggal, yaitu:[25]
§  Orang mati diyakini sangat membahayakan karena mati dapat menular. Sehingga, apabila manusia yang masih hidup ini tidak memperdulikan, tidak memperhatikan dan tidak merawat serta tidak melayaninya dengan baik-baik orang yang sudah meninggal, maka roh-rohnya akan membawa manusia yang masih hidup kepada penderitaan sakit yang dapat menyebabkan kematian. Terlebih lagi bilamana mereka meninggal disebabkan karena kekerasan, kekejaman atau perbuatan yang menyakitkan hati.
§  Orang mati terutama mereka yang menjadi tokoh atau para pemuka dalam masyarakat dipercaya bahwa setelah mereka meninggal, roh mereka semakin berkuasa dan menentukan kehidupan serta nasib manusia yang masih hidup. Roh-roh ini dipercaya mampu menolong dan juga mampu menyakiti.
§  Orang yang sudah meninggal tidak dapat mencukupi kebutuhannya sendiri. Karena itu harus dicukupi oleh orang yang masih hidup yaitu dengan cara upacara yang disertai sesaji.
§  Orang yang sudah meninggal diyakini rohnya dapat kembali ke dunia, kembali hidup dalam masyarakat manusia dan rohnya tadi dapat dilahirkan kembali dalam jasad-jasad yang dikendaki dan dipilih olehnya.
Karena kepercayaan yang diwujudkan dengan sikap seperti itu, masyarakat primitif  selalu melaksanakan kegiatan ini dengan sebaik-baiknya dengan harapan para roh tersebut dapat memeberikan perlindungan terhadap masyarakat tersebut.
Dari bermacam-macam sikap terhadap orang yang sudah meninggal, maka kita dapatkan adanya beberapa macam bentuk kultus[26] sesembahan atau pemujaan, antara lain:[27]
Ø  Tingkatan Pemujaan Menurut Kelas-Kelas
Tidak semua leluhur mempunyai tingkatan yang sama sebab di antara mereka ada yang paling berkuasa. Dan yang sering terjadi adalah anggota kelompok atau anggota suku dalam tingkatan biasa hanya dipuja untuk sementara waktu saja. Bentuk sesembahan yang sangat merata di antara suku-suku primitif adalah terhadap roh para pribadi yang agung yang merupakan pusat kultus sesembahan terhadap leluhur. Senioritas dalam masyarakat dan para pendiri keluarga menempati kultus sesembahan dalam lingkungan terbatas pada generasi jalur keturunan.

Ø  Kultus Sesembahan Merupakan Tumpuan Harapan
Roh-roh para leluhur dapat dipanggil untuk membantu menghilangkan kesulitan masyarakat, terutama untuk menjamin kelestarian garis jalur keturunan karena biasanya ada keyakinan bahwa roh para leluhur mendambakan kelestarian garis yang memujanya.  Selain itu roh para leluhur juga diharapkan dapat menghindarkan bahaya serta dapat mendatangkan kebaikan, karena para roh tersebut dipercaya sangat menentukan nasib mereka.

Ø  Bentuk Kultus Sesembahan Bersifat Komunal
Pemujaan terhadap arwah leluhur seringkali melibatkan kepercayaan bahwa semua anggota suku adalah keturunan dari seseorang tokoh tertentu yang yang dipuja. Karena itu di sini tampak adanya pemujaan yang terikat dengan pertalian kekerabatan. Kesimpulannya orang yang meninggal disembah oleh suatu kelompok seperti keluarga dan klan karena roh ini merupakan anggota keluarga pada waktu hidupnya dulu.

Bentuk-bentuk kultus sesembahan seperti itu selain masih banyak di kalangan suku-suku primitif juga terdapat di sekitar kita saat ini yang banyak kita jumpai.





BAB III
KESIMPULAN DAN PENUTUP

KESIMPULAN
Masyarakat Jawa memang sudah mengenal Tuhan sebelum datangnya agama-agama yang berkembang seperti sekarang ini. Masyarakat Jawa mempercayai banyak sekali orang atau benda yang dianggap keramat. Biasanya orang-orang yang dianggap keramat adalah tokoh atau leluhur di dalam masyarakat itu sendiri. Sedangkan benda-benda yang dikeramatkan adalah benda-benda peninggalan leluhur mereka. Mereka percaya bahwa roh-roh orang yang sudah meninggal mampu memberikan pertolongan sehingga untuk menghormati roh-roh terebut mereka mengadakan upacara pemujaan yang disertai dengan sesaji agar keluarga mereka telindung dari bahaya. Masyarakat Jawa juga percaya bahwa roh itu juga dapat bersemayam dalam benda-benda yang dianggap mempunyai mana seperti pusaka-pusaka peninggalan leluhur mereka. Cara untuk menghormati benda-benda ini antara lain dengan merawat dengan baik benda tersebut, diolesi dan disirami pada waktu tertentu, disuguhi hidangan makanan atau kembang serta diasapi dengan kemenyan. Selain itu juga dapat dilakukan dengan kirab pusaka seperti di Keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Dengan harapan agar roh yang dikeramatkan membalas dengan cara memberikan kebaikan terhadap masyarakat yang menyembahnya, berbagai cara dilakukan masyarakat untuk menghormati roh tersebut. sehingga dapat dijumpai bentuk sikap kepercayaan masyarakat terhadap roh orang yang sudah meninggal yang juga dapat berbengaruh terhadap adanya bentuk-bentuk kultus sesembahan, antara lain tingkatan pemujaan menurut kelas-kelas, kultus sesembahan merupakan tumpuan harapan, serta bentuk kultus sesembahan yang bersifat komunal.





PENUTUP
Manusia mengamati segala peristiwa yang didapatinya, bahwa selalu ada perubahan dan peredaran, selalu selisih berganti dan berubah, tidak ada yang tetap maupun kekal, semuanya pasti akan mendapat keberhasilan ataupun kegagalan. Manusia bukanlah makhluk yang telah sampai pada derajat kesempurnaan, tetapi manusia hanya berusaha untuk bisa lebih sempurna dari sebelumnya, namun Tuhanlah yang menentukan tingkat keberhasilannya. Penulis yang notabene adalah manusia menyadari masih banyak kesalahan dan kekurangan dalam karya tulis ini, semoga karya tulis ini bisa bermanfaat bagi pembaca, dan terlebih lagi bagi penulis, kritik dan sarannya penulis harapkan yang bersifat mendukung. Demikian dari kami, jikalau ada kesalahan dalam kami menulis dan memaparkannya, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya.















DAFTAR PUSTAKA

Al Barry, M. Dahlan, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkeola, 2001).

Daradjat, Zakiah, dkk, Perbandingan Agama, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996).

Jamil, Abdul, dkk, Islam & Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000).

Kuncoroningrat, Sejarah Kebudayaan Indonesia, (Yogyakarta: Jambatan, 1954).

Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, (Yogyakarta: Kanisius, 1973).

Priyohutomo, Sejarah Kebudayaan Indonesia  Jilid II, (Jakarta: J.B. Walters, 1953).




[1] H. Abdul Jamil, dkk, Islam & Kebudayaan Jawa, (Yogyakarta: Gama Media, 2000), hlm. 3.
[2] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, Perbandingan Agama, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 24.
[3] M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya: Arkeola, 2001), hlm. 32.
[4] Kuncoroningrat, Sejarah Kebudayaan Indonesia, (Yogyakarta: Jambatan, 1954), hlm. 103.
[5] Diakses dari http://mufarida.blogspot.com/p/animisme-dan-dinamisme-dalam-kebudayaan.html, pada tanggal 25 Maret 2013 pukul 14.15.
[6] H. Abdul Jamil, dkk, op. Cit., hlm. 6.
[7] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 44.
[8] Priyohutomo, Sejarah Kebudayaan Indonesia  Jilid II, (Jakarta: J.B. Walters, 1953), hlm. 10.
[9] H. Abdul Jamil, dkk, loc. Cit.
[10] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 45.
[11] Diakses dari http://sallykuweir.blogspot.com/2010/04/perkembangan-sejarah-kepercayaan.html, pada tanggal 25 Maret 2013 pukul 14.27.
[12] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 35-36.
[13] Menurut Babad Tanah Jawi (abad ke-19), menceritakan bahwa nama asli dari Nyai Roro Kidul adalah Ratna Suwinda putri dari seorang raja Pajajaran yang bernama Raja Mudingsari. Sedang menurut versi masyarakat Yogyakarta, Nyai Roro Kidul adalah gadis yang buruk rupa putri dari Begawan Abdi Waksa Geni. Oleh karena itu ia diperintah ayahnya untuk mandi dan bertapa di laut selatan. Nyai Roro Kidul juga dipercaya menjadi “istri spiritual” bagi raja-raja Mataram Islam (Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta).
[14] H. Abdul Jamil, dkk, op. Cit., hlm. 9.
[15] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 98.
[16] Ibid.
[17] Pringgodigdo, Ensiklopedi Umum, (Yogyakarta: Kanisius, 1973), hlm. 318.
[18] Ibid.
[19] Dalam Kamus Ilmiah Populer, mana artinya kekuatan ghaib; reaksi primitif manusia terhadap timbulnya sesuatu, sehingga menimbulkan sifat takut, kuatir, cemas, hati-hati, dll.
[20] M. Dahlan Al Barry, op. Cit., hlm. 112.
[21] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 109.
[22] Fetish adalah benda-benda yang mengandung mana.
[23] Dr. Zakiah Daradjat, dkk, op. Cit., hlm. 110.
[24] Ibid., hlm. 106.
[25] Ibid., hlm. 47-49.
[26] Kultus; penghormatan resmi, ibadat, penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang atau benda.
[27] Dr. Zakiah Daradjat, op. Cit., hlm. 48.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar